Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

Kenapa kita harus bekerja?
HypenTrend – Review buku Every Good Endeavor Timothy Keller
Ada masa ketika saya bertanya-tanya: kalau Tuhan punya segalanya, kenapa manusia masih harus bekerja? Pertanyaan itu terdengar sederhana, bahkan mungkin konyol. Tetapi semakin dewasa, saya justru merasa pertanyaan tersebut semakin masuk akal.
Bekerja sering kali tidak hanya berarti mencari nafkah. Bagi banyak orang, pekerjaan membawa tekanan untuk membuktikan bahwa kita berhasil, bahwa hidup kita berguna, bahwa pendidikan kita tidak sia-sia, dan bahwa kita tidak menjadi beban bagi orang lain.
Saya pernah berada dalam fase itu. Ketika lulus kuliah pada 2020 dengan gelar Ilmu Komunikasi, keluarga sempat menganggap gelar tersebut mungkin akan berakhir sia-sia. Situasi pandemi membuat masa depan pekerjaan terlihat tidak pasti. Saya kemudian mendapat pekerjaan di salah satu stasiun televisi dan berhasil membuktikan bahwa kekhawatiran tersebut tidak terjadi. Namun, ternyata mendapatkan pekerjaan tidak otomatis menyelesaikan keresahan tentang pekerjaan.
Justru muncul pertanyaan lain: Mengapa saya harus bekerja supaya dianggap berharga? Apakah saya harus mengembalikan semua yang sudah diberikan keluarga? Mengapa manusia harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu yang sebenarnya Tuhan bisa saja berikan secara langsung?
Belum lagi ketika melihat orang-orang di sekitar. Banyak yang bekerja terutama demi uang. Bukan lagi soal passion atau aktualisasi diri. Yang penting bisa membayar kebutuhan, membantu keluarga, dan kalau memungkinkan menjadi kaya supaya generasi berikutnya tidak mengalami kesulitan yang sama.
Semakin lama, saya sadar bahwa persoalan bekerja jauh lebih dalam daripada sekadar “saya suka atau tidak suka pekerjaan saya.”
Di titik itulah buku Timothy Keller, Every Good Endeavor, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘Apakah Pekerjaan Anda Bagian dari Pekerjaan Allah?’, terasa relevan.
Buku ini tidak sekadar mengajarkan bagaimana mendapatkan pekerjaan yang ideal. Keller justru mengajak pembaca melihat kembali apa sebenarnya arti bekerja di hadapan Allah. Dan bagi saya, ada setidaknya empat keresahan yang mulai mendapatkan jawabannya.
Ini mungkin pertanyaan yang paling mengganggu.
Kalau Tuhan bisa menyediakan makanan, mengapa manusia harus bertani? Kalau Tuhan bisa memberikan uang, mengapa manusia harus bekerja? Kalau Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, mengapa manusia harus repot-repot mengusahakan sesuatu?
Keller membuka perspektif yang sederhana tetapi penting: manusia sudah bekerja sebelum kejatuhan.
Bekerja bukan hukuman karena dosa.
Dalam kisah penciptaan, Allah sendiri digambarkan sebagai ‘Pribadi’ yang bekerja. Kemudian manusia diciptakan menurut gambar Allah dan diberi tugas untuk mengusahakan serta memelihara ciptaan.
Dengan kata lain, pekerjaan bukanlah konsekuensi dari manusia yang berdosa. Pekerjaan adalah bagian dari rancangan penciptaan. Dosa memang membuat pekerjaan menjadi berat. Kita mengenal frustrasi, konflik dengan rekan kerja, kegagalan, persaingan, kelelahan, pekerjaan yang tidak dihargai, bahkan pekerjaan yang terasa sia-sia. Tetapi pekerjaan itu sendiri bukan sesuatu yang jahat.
Saya kemudian melihat kembali pertanyaan, “Kenapa Tuhan tidak langsung menyediakan makanan?”
Mungkin jawabannya bukan karena Tuhan tidak mau menyediakan. Tuhan memang menyediakan, tetapi sering kali Ia memilih menyediakan melalui pekerjaan manusia.
Di sinilah saya melihat salah satu keindahan cara Tuhan bekerja: Ia melibatkan manusia dalam pekerjaan-Nya. Kita bekerja bukan karena Tuhan kekurangan tenaga. Kita bekerja karena Tuhan memberikan manusia tempat untuk mengambil bagian dalam mengusahakan dunia yang Ia ciptakan.
Ini pertanyaan berikutnya.
Kalau pekerjaan memang baik, mengapa pekerjaan justru menjadi salah satu sumber kelelahan terbesar manusia?
Karena sesuatu yang baik dapat kita perlakukan secara salah. Pekerjaan bisa menjadi sumber kehidupan, tetapi juga bisa menjadi sumber identitas. Di sinilah persoalannya.
“Kalau saya sukses, berarti saya berharga.”
“Kalau karier saya bagus, berarti hidup saya berhasil.”
“Kalau saya kehilangan pekerjaan, berarti saya gagal.”
Tanpa sadar, pekerjaan yang seharusnya menjadi bagian dari hidup berubah menjadi pusat kehidupan. Keller menyebut bahwa pekerjaan dapat menjadi berhala. Menariknya, berhala tidak selalu berbentuk sesuatu yang kita cintai secara berlebihan. Kadang-kadang sesuatu menjadi berhala karena kita merasa tidak bisa hidup tanpanya.
Karier bisa menjadi berhala, uang bisa menjadi berhala, bahkan keamanan finansial bisa menjadi berhala.
Saya merasa bagian ini cukup menampar. Sebab selama ini saya mungkin menganggap masalahnya hanya pada orang yang terlalu mengejar jabatan atau kekayaan. Ternyata tidak sesederhana itu. Seseorang juga bisa diperbudak pekerjaan karena takut miskin.
Kita bisa bekerja bukan karena ambisi menjadi terkenal, tetapi karena takut hidup kita tidak aman. Dan ketakutan itu tetap dapat membuat pekerjaan mengambil tempat yang terlalu besar dalam hidup.
Ada masa ketika nasihat “carilah pekerjaan sesuai passion” terdengar sangat ideal. Tetapi semakin dewasa, saya semakin sadar bahwa tidak semua orang memiliki kemewahan tersebut.
Ada orang yang bekerja karena memang harus bekerja. Ada tagihan yang harus dibayar. Ada keluarga yang harus diberi makan. Ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda hanya karena kita belum menemukan pekerjaan impian.
Kalimat seperti, “Kalau miskin tahu diri, harus cari kerja,” mungkin terdengar kasar. Tetapi realitasnya memang demikian: kebutuhan ekonomi dapat memaksa manusia untuk bekerja, bahkan ketika pekerjaan tersebut bukan sesuatu yang dicintainya.
Lalu, apakah itu berarti pekerjaan tersebut tidak bermakna? Keller menawarkan perspektif yang lebih luas.
Nilai sebuah pekerjaan tidak hanya ditentukan oleh seberapa menyenangkan pekerjaan itu bagi kita. Pekerjaan juga memiliki nilai karena melalui pekerjaan, kita dapat melayani orang lain dan mengusahakan kebaikan bersama.
Ini membuat saya memikirkan kembali istilah passion. Mungkin masalahnya bukan bahwa passion itu tidak penting. Masalahnya adalah ketika kita menjadikan passion sebagai satu-satunya ukuran pekerjaan yang bermakna. Tidak semua pekerjaan terasa menyenangkan.
Tetapi sebuah pekerjaan tetap dapat menjadi sarana untuk melakukan sesuatu yang baik. Seorang kasir melayani orang, seorang guru membentuk manusia, Seorang programmer menyelesaikan masalah, seorang petugas kebersihan menciptakan ruang yang lebih layak bagi orang lain, dan seseorang yang melakukan pekerjaan yang tidak pernah masuk dalam daftar “dream job”-nya pun tetap dapat melakukan sesuatu yang bernilai.
Di sisi lain, Keller juga mengingatkan bahwa identitas kita tidak boleh dibangun di atas jabatan, prestasi, penghasilan, atau pengakuan manusia.
Ini penting karena mungkin selama ini kita berharap pekerjaan memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak mampu diberikan pekerjaan. Pekerjaan bisa memberikan penghasilan, tetapi tidak bisa memberikan identitas yang kokoh.
Pekerjaan bisa memberikan prestasi, tetapi tidak bisa menjamin bahwa kita akan selalu merasa berharga. Pekerjaan bisa memberikan keamanan finansial, tetapi tidak bisa memberikan kepastian mutlak. Mungkin itulah sebabnya kita bisa memiliki pekerjaan yang bagus dan tetap merasa kosong.
Ada satu keresahan lain yang terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang: takut tertinggal.
Orang lain naik jabatan, orang lain membeli rumah, orang lain membangun bisnis, orang lain punya penghasilan lebih besar, orang lain terlihat lebih produktif di media sosial.
Lalu kita bertanya: Saya kapan?
Sebelum bekerja di salah satu lembaga pelayanan di Jakarta, saya cukup sering merasakan tekanan semacam ini. Bahkan sampai sekarang pun perasaan tersebut belum sepenuhnya hilang. Ada dorongan untuk terus bekerja, terus berkembang, terus menghasilkan sesuatu. Seolah-olah kalau berhenti sebentar, orang lain akan berjalan lebih jauh.
Tetapi Every Good Endeavor mengingatkan saya bahwa bekerja dengan sungguh-sungguh tidak berarti harus bekerja tanpa batas.
Pekerjaan itu penting, tetapi pekerjaan bukanlah seluruh hidup. Karena itu, kemampuan untuk berhenti ternyata sama pentingnya dengan kemampuan untuk bekerja.
Beristirahat bukan berarti malas. Menghabiskan waktu bersama keluarga bukan berarti tidak ambisius. Menikmati makanan tanpa membuka laptop bukan berarti tidak produktif. Dan tidur ketika tubuh membutuhkan istirahat bukan berarti kalah dalam perlombaan.
Ada kalanya kita perlu mengatakan: “Untuk hari ini, cukup.”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi bagi manusia yang terus mengejar pencapaian, mengatakan “cukup” bisa menjadi bentuk iman. Sebab pada akhirnya, kita tidak bekerja untuk membuktikan bahwa kita berharga.
Mungkin inilah perubahan perspektif terbesar yang saya dapatkan dari buku Keller.
Sebelumnya, saya melihat pekerjaan seperti sebuah kewajiban yang harus dilakukan manusia untuk mendapatkan sesuatu: uang, keamanan, pengakuan, atau bahkan rasa berharga.
Keller membantu saya melihatnya dari arah yang berbeda. Saya tidak bekerja supaya menjadi berharga. Saya bekerja karena saya sudah menerima identitas dan panggilan dari Tuhan.
Karena itu, pekerjaan tidak perlu menjadi tempat saya mencari keselamatan bagi diri sendiri. Saya boleh bekerja dengan sungguh-sungguh, tanpa menjadikan pekerjaan sebagai tuhan. Saya boleh memiliki ambisi, tanpa membiarkan ambisi menentukan harga diri. Saya boleh mengejar keberhasilan, tanpa menganggap kegagalan sebagai akhir dari hidup. Dan saya boleh beristirahat, tanpa merasa bersalah karena dunia tetap berjalan tanpa saya.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan lagi: “Apa pekerjaan impian saya?”
Melainkan:
“Bagaimana melalui pekerjaan yang saya lakukan hari ini, saya dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Allah untuk mengusahakan kebaikan bagi dunia?”
Bagi saya, Every Good Endeavor bukan buku yang membuat pekerjaan menjadi lebih mudah. Buku ini melakukan sesuatu yang lebih penting: mengubah cara saya memandang pekerjaan.
Dan mungkin itu yang kita butuhkan ketika pekerjaan sudah terlalu lama kita anggap sebagai kutuk, perlombaan, sumber identitas, atau sekadar cara mendapatkan uang. Kita perlu belajar melihat bahwa pekerjaan memang bisa melelahkan. Tetapi pekerjaan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi “tuhan” kita.